Jakarta/suaraglobal.co.id/tabrakan-antara-krl-commuter-line-dan-argo-bromo-anggrek-di-stasiun-bekasi-timur-menyisakan-duka-sekaligus-sorotan-serius-soal-keselamatan-perkeretaapian
Insiden terjadi saat KRL berada di jalur stasiun sewaktu KA Argo Bromo Anggrek melintas dan tabrakan tak terhindarkan.
Hasil identifikasi sementara PT KAI, tabrakan itu diawali peristiwa: ~”Sebuah taksi tertemper KRL di perlintasan dekat Stasiun Bekasi Timur,” kata Direktur Utama KAI Bobby Rasyidin [28/04].
~”Peristiwa ini, diduga menimbulkan gangguan pada perlintasan”.
Lebih lanjut Bobby menjelaskan:
~”Dimulai dengan adanya temperan taksi hijau ya, itu di JPL 85. Sehingga ini yang kami curigai itu membuat sistem perkeretaapian di daerah stasiun emplasemen Bekasi Timur ini agak terganggu,” ungkapnya.
Keterangan pihak pemerhati transportasi melihat persoalan yang lebih pelik.
Masyarakat Transportasi Indonesia [MTI] mengatakan ada dua isu keselamatan di balik insiden tabrakan tersebut.
Pertama, mobil listrik yang mogok di perlintasan tanpa palang pintu [JPL 85]
Kedua, masinis yang diduga lalai melihat sinyal berhenti sehingga mengakibatkan Kereta Api menabrak Kereta Api lain dari belakang [rear-end collision].
~”Kecelakaan KKA yang berpotensi berulang-ulang dengan modus penyebab yang sama akan menimbulkan keprihatinan tanpa batas,” katanya.
Ia mengusulkan perbaikan secara menyeluruh pada sistem keselamatan perkeretaapian, termasuk peremajaan teknis, serta penentuan jumlah rel yang dibuat khusus kereta api jarak dekat dan jarak jauh.
MT juga usul agar dilakukan modernisasi sistem sinyal, pengaturan jam kerja pekerja kereta, sistem periksa berulang sinyal, hingga peremajaan sarana dan prasarana.
Dia juga meminta perbaikan prosedur pengguna jalan yang melalui perlintasan rel kereta dan SOP kendaraan mogok di atas rel.
~”Saat ini PT KAI menyerahkan seluruh penyelidikan kepada KNKT. PT KAI juga menyampaikan duka mendalam dan permohonan maaf atas kejadian ini”.
[tpa-suaraglobal]











