Artikel

Ambisi Tinggi Fokus Rapuh: Potret Mahasiswa dan Ilusi Prestasi

15
×

Ambisi Tinggi Fokus Rapuh: Potret Mahasiswa dan Ilusi Prestasi

Sebarkan artikel ini

suaraglobal.co.id
Oleh: Evi Putrianti
Pendidikan adalah salah satu aspek fundamental dalam kehidupan manusia (Taheri, Nasiri, Moaddab, Nayebi, & Louyeh, 2015). Melalui pendidikan, seseorang diharapkan mampu mendapatkan peningkatan kualitas hidup, membangun keterampilannya, serta menjalani masa depannya dengan baik. Dalam proses pengembangan kualitas personal lewat jenjang perguruan tinggi, sayangnya terdapat tantangan dan rintangan yang perlu dihadapi oleh mahasiswa sekaligus dosen dalam waktu bersamaan. Saat ini, ada banyak kecenderungan bahkan trend terkait keinginan yang besar untuk meraih nilai tinggi, tetapi tidak selalu diiringi dengan fokus dan kualitas usaha yang sepadan.
Ambisi akademik memang bukan sesuatu yang salah dalam ranah pendidikan, utamanya perguruan tinggi. Ambisi mampu menciptakan kegigihan yang dapat memprediksi keberhasilan sebuah prestasi. Kegigihan dapat didefinisikan sebagai minat yang konsisten dan ketekunan yang bertujuan untuk mencapai suatu tujuan tertentu yang bersifat jangka panjang (Duckworth & Gross, 2014). Mahasiswa yang memiliki kegigihan sekaligus ambisi belajar dianggap lebih siap menghadapi tantangan zaman dan dunia perguruan tinggi yang dinamis. Kegigihan juga mampu memberikan pengaruh signifikan terhadap prestasi akademik (Schmidt, Fleckenstein, Retelsdorf, Eskreis-Winkler, & Möller, 2017; Duckworth et al., 2007; Lee & Sohn, 2017; Strayhorn, 2013; Dweck, Walton, & Cohen, 2014).
Namun sayangnya, ambisi yang tidak ditopang oleh kedisiplinan, ketekunan, kecakapan pedagogik, sekaligus kejujuran intelektual, mampu berubah menjadi sekadar hasrat untuk terlihat berhasil, tetapi tidak benar-benar menjadi mampu. Mahasiswa yang memiliki ambisi untuk memperoleh nilai akademik tinggi, namun tidak dibarengi dengan disiplin, telah menciptakan suatu orientasi tujuan yang salah arah. Ambisi kosong dapat mengarahkan seseorang kepada kondisi performance orientation, di mana keberhasilan diukur dari pengakuan eksternal, bukan pertumbuhan internal.
Nilai semata-mata menjadi sebuah ilusi prestasi, serta semakin menegaskan fenomena kerapuhan dalam sistem akademik. Akibatnya, individu menghindari tantangan yang berisiko memperlihatkan kelemahan mereka. Sehingga perlu sekali, dosen maupun mahasiswa membedakan performance goal orientation atau sebuah keinginan untuk terlihat kompeten di mata orang lain, serta mastery goal orientation, atau keinginan untuk benar-benar menguasai sesuatu (Dweck, 2006).
Lantas, siapa yang bertanggung jawab atas tumbuhnya ambisi narsistik yang rapuh di kalangan mahasiswa dan dalam ekosistem pembelajaran? Jawabannya tidak tunggal. Kerapuhan dalam sistematika akademik, menjadi pekerjaan rumah bersama bagi seluruh sivitas akademika, baik mahasiswa, dosen serta sistem akademik itu sendiri.
Perlu dibentuk paradigma agar mahasiswa tidak hobi mencari jalan paling mudah, melalui upaya dosen menumbuhkan daya tahan dalam menghadapi proses belajar mengajar yang harus semakin dinamis dan mendalam. Meskipun memang konsep belajar yang mendalam membutuhkan waktu, dapat memantik kebosanan, bahkan frustrasi pada mahasiswa dan dosen itu sendiri. Namun, tantangan dalam pembelajaran mampu membentuk respons yang dapat memperdalam usaha, bukan sekedar cara instan.
Dosen juga perlu adaptif terkait metode belajar, motivasi belajar, gaya belajar, minat belajar, sikap serta kepribadian bawaan mahasiswa yang telah terbentuk sejak lama. Lingkungan perguruan tinggi harus mampu mendorong terciptanya paradigma “bagaimana saya memahami materi ini?”, “bagaimana saya mampu mengembangkan skill diri?”, “bagaimana saya dapat adaptif dan membangun relasi kerja sejak dini?”, bukan sekedar “bagaimana saya bisa tetap dapat nilai bagus dengan usaha seminimal mungkin?”.
Dosen bersama lingkungan perguruan tinggi harus mampu merawat kemudahan hasil belajar yang ditawarkan teknologi AI, serta budaya mahasiswa sebagai proses pengembangan belajar yang lebih konstruktivistik, bukan hanya indikator pendorong kerapuhan harga “nilai” akademik. Dosen perlu mengembalikan mental pembelajar, bukan hanya mental pencari hasil. Mahasiswa harus memperoleh dorongan agar dapat kembali fokus mengembangkan diri, baik secara teoritis, praktik, pencapaian angka semata, keterampilan, serta sikap.
Sekali lagi, kritik ini bukan untuk menghakimi, melainkan untuk mengajak kita semua melakukan refleksi. Jika mahasiswa terus mempertahankan pola ambisi tanpa fokus dan usaha yang matang, maka mereka berisiko membawa kebiasaan ini ke dunia kerja dan kehidupan nyata, di mana hasil tidak lagi bisa “diakali”. Pada akhirnya, pertanyaannya sederhana tetapi mendasar: apakah kita ingin sekadar terlihat pintar, atau benar-benar menjadi pribadi yang mampu? Karena tanpa fokus, tanpa usaha yang sungguh-sungguh, nilai tinggi hanyalah angka—bukan cerminan kualitas diri.

Daftar Pustaka
Taheri, M., Nasiri, E., Moaddab, F., Nayebi, N., & Louyeh, A. A. (2015). Strategies to Improve Students’ Educational Achievement Motivation at Guilan University of Medical Sciences. Research & Development in Medical Education, 4(2), 133-139. doi: 10.15171/rdme.2015.024
Duckworth, A. & Gross, J. J. (2014). Self control and Grit: Related but Separable Determinants of Success. Current Directions in Psychological Science, 23(5), 319-325. doi: 10.1177/0963721414541462
Dweck, C. S., Walton, G. M., & Cohen, G. L. (2014). Academic Tenacity: Mindset and Skills that Promote Long-Term Learning. USA: Bill & Melinda Gates Foundation
Duckworth, A. L., Peterson, C., Matthews, M. D., & Kelly, D. R. (2007). Grit: Perseverance And Passion for LongTerm Goals. Journal of Personality and Social Psychology, 92, 1087– 1101. doi: 10.1037/0022- 3514.92.6.1087
Schmidt, F. T., Fleckenstein, J., Retelsdorf, J., Eskreis-Winkler, L., & Möller, J. (2017). Measuring grit: A German validation and a domainspecific approach to grit. European Journal of Psychological Assessment, 0(0), 1-12. doi: 10.1027/1015-5759/a000407

Picture (Ilustrasi mahasiswa dan dosen)
https://www.pexels.com/id-id/foto/orang-orang-masyarakat-rakyat-manusia-8197494/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *