Artikel

Mahasiswa Pendidikan Seni Pertunjukan ISI Yogyakarta Jadikan Panggung sebagai Ruang Kritik dan Refleksi Sosial

202
×

Mahasiswa Pendidikan Seni Pertunjukan ISI Yogyakarta Jadikan Panggung sebagai Ruang Kritik dan Refleksi Sosial

Sebarkan artikel ini

Yogyakarta// suaraglobal.co.id –Mahasiswa PSP ISI Yogyakarta angkatan 2024 bersama Program Studi Pendidikan Seni Pertunjukan (PSP) ISI Yogyakarta, sukses menggelar Ujian Akhir Semester Penyutradaraan selama tiga hari berturut-turut pada 8–10 Mei 2026 di Teater Arena ISI Yogyakarta. Kegiatan bertajuk “Kreativitas yang Bersuara” ini menampilkan 36 repertoar karya dari 36 sutradara yang merupakan mahasiswa mata kuliah penyutradaraan. 36 repertoar yang dipentaskan secara terbuka dalam dua sesi setiap harinya, mendapat antusiasme tinggi dari penonton. Umumnya penonton yang hadir merupakan mahasiswa ISI Yogyakarta, beberapa mahasiswa luar kampus, masyarakat umum, serta seniman lokal Yogyakarta.

Pementasan Ujian Akhir Semester Penyutradaraan yang terlaksana pada 8-10 Mei 2026 lalu, sekaligus menjadi ruang apresiasi, serta pembuktian proses kreatif mahasiswa dalam mengolah ide, merespon fenomena sosial, melakukan interpretasi naskah, merancang artistik panggung, hingga kemampuan memimpin proses pertunjukan secara utuh. Dosen pengampu mata kuliah penyutradaraan yaitu Bapak Dr. Drs. Nur Iswantara, M.Hum, Bapak Susanto, M.Sn, serta Ibu Evi Putrianti, S.Sn., M.Pd., Gr, telah berupaya mendorong lahirnya berbagai repertoar dengan tema, gaya, dan pendekatan artistik yang beragam dari masing-masing sutradara.

Pada hari pertama, penonton disuguhkan sejumlah repertoar seperti “Petruk Dadi Presiden”, “Bayangan Diatas Kursi”, “Simphony Anak Jalanan”, “ADUH”, “Lengger Lanang”, “Kadang Tan Pinisah”, “”Mimpi-mimpi”, “Pinangan”, hingga “Bayangan Tak Terlihat”. Beragam karya yang digarap oleh para sutradara seperti Adi Witama, Steffani Lembah Manah, Fatma Desti, Nalendra, Hera, Angel, Virgianto, Zacky, serta Amarra. Berbagai repertoar tersebut menghadirkan persoalan sosial, budaya, hingga refleksi kehidupan yang dikemas melalui pendekatan teatrikal yang menarik.
Melalui pementasan “Petruk Dadi Presiden”, Adi Witama berupaya menghadirkan satire politik yang segar atas dunia politik yang kerap kehilangan arah dan nurani melalui tokoh Petruk. Setelahnya, penonton diajak untuk menyaksikan refleksi tentang beban tanggung jawab, warisan, dan tekanan yang alami oleh dua tokoh tua dalam karya “Bayangan Diatas Kursi” oleh Steffani Lembah Manah. “Simphony Anak Jalanan” oleh Fatma Desti yang mengangkat kisah anak-anak jalanan yang hidup di sela-sela hiruk pikuk kota berupaya menyajikan penampilan ringan mengenai kehidupan yang penuh warna namun tak jarang menyayat hati.
“ADUH” oleh Nalendra tampil apik dengan memberikan pengalaman rasa sakit, kejutan, sekaligus kekecewaan yang universal dan dekat dengan keseharian manusia. Meriah, “Lengger Lanang” oleh Hera memberikan pengalaman menonton tradisi tari Lengger dari Banyumas yang sarat nilai budaya dan identitas gender, menghadirkan eksplorasi tentang keindahan, keberanian, dan kompleksitas manusia yang melampaui batas-batas konvensi sosial.
Penonton hari pertama juga dibuat terpukau dengan penampilan “Kadang Tan Pinisah” oleh Angel yang memberikan pengalaman menonton sebuah perjalanan, kisah ikatan batin, sekaligus hubungan yang melampaui jarak dan waktu. Setelahnya pada repertoar “Mimpi-mimpi” oleh Virgianto, penonton diajak untuk menyelami dunia angan dan harapan para pasien RSJ yang unik dan mengejutkan. Ringan dan menarik, pementasan “Pinangan” oleh Zacky memberikan pengalaman menonton budaya lamaran dan perjodohan yang dikemas dengan nuansa komedi dan kritik sosial. Terakhir, repertoar “Bayangan Tak Terlihat” oleh Amarra menjadi penutup yang misterius pada hari pertama. Penonton diajak mengeksplorasi sebuah tanda tanya besar seorang anak terhadap ayahnya, menyajikan sebuah konflik keluarga yang traumatik, serta sisi gelap yang tak pernah diakui.
Memasuki hari kedua, pementasan semakin meriah dengan hadirnya repertoar seperti “Rintihan Nestapa Raja Alengka” oleh Geor Geos Bima, “Janji Senja” oleh Arsenia, “Death and the Maident” oleh Anggun, “Cermin” oleh Ainun Meiligan, “Badai Sepanjang Malam” oleh Dhini, Lost Mannequin oleh Chelsea Nakita, “Juwita Malam” oleh Cantika, “Jeng Menul” oleh Khoirika, “Kereta Kencana” oleh Haidar Ali, “Negeri ABG” oleh Ulva Juwita, “Takdir Cinta Ksatria Langit” oleh Nayla Jasmine, “Semar Mencari Raga” oleh Lulu, “Sun Mathek Aji” oleh Herfan Efendi, hingga “Ampak-Ampak Kedung Srengenge” oleh sutradara Yuliana. Setiap sutradara telah berhasil menghadirkan karakter visual dan interpretasi yang berbeda sehingga memberikan pengalaman menonton yang dinamis bagi audiens.
Melalui pementasan “Rintihan Nestapa Raja Alengka” oleh Geor Geos Bima, penonton menyaksikan kisah tragis Rahwana dari sudut pandang yang lebih manusiawi. Sebuah penelusuran sisi paling rapuh dari seorang raja yang kerap hanya dilihat sebagai antagonis dalam epos Ramayana. Berbeda dengan Bima, Arsenia dengan “Janji Senja” berupaya merespon cerita tentang janji-janji yang tergantung di ujung waktu, menyentuh kesetiaan, harapan, dan perpisahan yang dikemas dalam suasana puitis dan penuh melankolia.
“Death and the Maiden” oleh Anggun berupaya mengajak penonton menyelami trauma, keadilan, dan keberanian seorang perempuan yang berhadapan dengan masa lalunya, sebuah karya yang memaksa penonton untuk duduk diam dan berpikir. Begitu pula dengan pementasan “Cermin” oleh Ainun Meiligan yang ingin mengajak penonton untuk menatap diri sendiri secara jujur, menanggalkan citra diri, dan paradoks antara penampilan dan kenyataan. Berbeda dengan penampil sebelumnya, “Badai Sepanjang Malam” oleh Dhini menggambarkan pergolakan batin pengabdian guru yang tak kunjung reda, menghadirkan ketegangan emosional yang dibangun perlahan.
“Lost Mannequin” yang ditulis serta di sutradarai langsung oleh Chelsea Nakita menampilkan eksplorasi kekosongan manusia modern yang terjebak dalam peran-peran yang bukan dirinya sendiri. Sesi perama kemudian ditutup oleh karya adaptasi berjudul “Juwita Malam” oleh Cantika yang mengajak penonton untuk menyelami kisah cinta tahun 1990-an yang berlokasi di Jakarta.
Pada sesi kedua hari kedua, “Jeng Menul” oleh Khoirika menawarkan pementasan yang ringan dan humoris, dengan latar kehidupan sosial sehari-hari. Tidak hanya “Jeng Menul”, karya “Negeri ABG” oleh Ulva Juwita juga mencoba memberikan kesegaran penampilan dengan menyoroti dunia remaja masa kini dengan segala kompleksitas. Setelahnya, penonton diajak untuk menikmati pementasan yang penuh refleksi metafora dalam pementasan “Kereta Kencana” oleh Haidar Ali. Setelahnya, pementasan “Takdir Cinta Ksatria Langit” oleh Nayla Jasmine tampil memadukan elemen mitologi dengan konflik cinta yang menggetarkan hati. “Semar Mencari Raga” oleh Lulu menampilkan muatan filosofis dan budaya melalui tokoh Semar sang simbol kebijaksanaan Jawa.

Teater Arena ISI Yogyakarta semakin terasa riuh dengan pementasan “Sun Mathek Aji” oleh Herfan Efendi yang mengangkat fenomena pelet Jawa Timur khususnya daerah Banyuwangi bernama jaran goyang. Repertoar hari kedua terakhir ditutup dengan pementasan bertajuk “Ampak-Ampak Kedung Srengenge” oleh Yuliana yang kaya nuansa tradisi, romantika puitis sekaligus komedi.
Sementara itu, hari ketiga ditutup dengan berbagai repertoar dengan genre yang beragam. “Ayahku Pulang” oleh Louis misalnya, membuka sesi pertama dengan penuh haru dan ketegangan tentang kepulangan seorang ayah yang telah lama pergi. Disusul pementasan “Kota Penuh Bintang” oleh Alyasya yang terinspirasi dari cerita Lalaland, menghadirkan kisah cinta unik yang tersembunyi di balik cahaya, mimpi, ambisi, dan kesunyian di tengah keramaian.

Masih soal cinta, “Kisah Cinta Hari Rabu” oleh sutradara Sasadara, “Bicara Cinta” oleh Nayla Rifka, “Nina Bobo” oleh Surbaiti, juga ingin menampilkan pengalaman mengeksplorasi bahasa dan kisah cinta yang tak selalu mudah diucapkan. Karya para sutradara perempuan itu ingin memberi kesan mengenai komunikasi, keberanian untuk jujur, dan kerentanan yang justru menjadi kekuatan dalam sebuah hubungan. Adapun pementasan berjudul “Rumah” oleh Erlina Santi, menghadirkan refleksi mendalam mengenai makna sejati rumah yang bukan sekadar bangunan fisik, melainkan tempat pulang bagi jiwa-jiwa yang lelah.
Setelah dibawa dalam pengalaman haru, “Kongres Unggas” oleh Wiwik tampil semarak dengan premis yang unik dan sarat alegori, karya Wiwik ini menggunakan dunia binatang sebagai cermin untuk mengkritisi dinamika kekuasaan sekaligus dunia demokrasi. Repertoar “Calon Arang” oleh Sulaiman terinspirasi dari foklore Bali berupaya memberikan pengalaman menonton sisi gelap kekuatan magis, pengucilan sosial, serta dendam yang lahir dari luka yang tak pernah disembuhkan. Aninda dengan “Pelukis dan Wanita”, Sepka dengan “Taplak Meja” menjadi pementasan sekali duduk, unik sekaligus ringan yang mengisahkan seniman dengan musenya, serta murid dan gurunya. Berbeda dengan keduanya, karya “Penggali Intan” oleh Fadila ingin menyampaikan arti kerja keras para pria yang berjuang demi menemukan sesuatu yang berharga dalam hidup.
Setelahnya, “Wedar Narawangsa” oleh Ditirsya memberikan pengalaman menonton dramatari tradisi ala Jawa Timur yang apik. Pada hari ketiga sesi kedua, repertoar ditutup dengan karya berani dan provokatif berjudul “Pelacur dan Sang Presiden” oleh Naura Lintang yang membenturkan dua sisi ekstrem kehidupan sosial untuk mengkritisi ketimpangan, moralitas, dan kemunafikan yang kerap bersembunyi di balik kekuasaan.

Hebatnya, penampilan para mahasiswa dalam 36 repertoar telah menunjukkan perkembangan kemampuan penyutradaraan yang matang, baik dari sisi konsep artistik, pengadeganan, maupun pengolahan emosi aktor, di atas panggung. Pementasan tiga hari berturut-turut tersebut sekaligus menjadi bukti bahwa generasi muda seni pertunjukan terus berkembang dan mampu menghadirkan karya-karya yang inspiratif sebagai medium refleksi, kritik, dan penyampaian gagasan, serta relevan dengan kehidupan masyarakat.

Ujian Akhir Semester Penyutradaraan bertajuk “Kreativitas yang Bersuara” yang digelar oleh mahasiswa Program Studi Pendidikan Seni Pertunjukan ISI Yogyakarta angkatan 2024 pada 8–10 Mei 2026 telah berjalan dengan sukses dan meriah. Karya mahasiswa semester 4 PSP itu, sekaligus berhasil memberikan pengalaman menonton yang reflektif, dramatik, serta melankolia. Mahasiswa bersama elemen pendukung lainnya diharapkan mampu memperoleh bekal penting ketika terjun ke dunia pendidikan, industri kreatif, maupun dunia pertunjukan profesional, usai memperoleh pengalaman belajar penyutradaraan***

Evi Putrianti

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *