Indramayu//suaraglobal.co.id – Desa Tenajar Lor kembali menggelar tradisi budaya Mapag Sri, sebuah kegiatan yang kini kian mendapatkan apresiasi luas dari seluruh lapisan masyarakat di wilayah tersebut, Kecamatan Kertsemaya, Kabupaten Indramayu. Kegiatan ini bukan sekedar acara adat, melainkan wujud nyata upaya menjaga warisan leluhur sekaligus mempererat persatuan antarwarga.
Sejak dipimpin oleh Kuwu Edy Supriatna bersama seluruh jajaran perangkat desa, Desa Tenajar Lor terus menghadirkan berbagai terobosan positif demi mewujudkan kemakmuran bersama. Salah satu langkah strategis yang diambil adalah memperkuat tali silaturahmi di antara warga melalui kegiatan-kegiatan bernuansa budaya. Tradisi Mapag Sri menjadi salah satu program unggulan yang dijalankan secara berkelanjutan dan diterima dengan antusiasme tinggi.
Menurut Juru tulis Fahturohman, pelaksanaan pagelaran wayang kulit dalam rangkaian acara ini memiliki makna yang sangat mendalam. Pertunjukan tersebut dijadikan simbol rasa syukur warga kepada Tuhan Yang Maha Esa atas hasil panen padi yang melimpah ruah setiap tahunnya. Di samping itu, panggung seni ini juga berfungsi sebagai wadah pertemuan yang menyatukan seluruh elemen masyarakat, tanpa memandang perbedaan, untuk bersuka cita dan saling menguatkan hubungan persaudaraan.
Pandangan ini dibenarkan pula oleh Bekel Iis, seorang pengamat kebijakan budaya yang telah lama mengamati perkembangan tradisi di Desa Tenajar Lor. Menurutnya, budaya yang dikembangkan di desa ini senantiasa mendapatkan respon positif karena relevan dengan nilai-nilai kehidupan masyarakat setempat dan bermanfaat bagi keharmonisan sosial. Tradisi Mapag Sri dianggap sebagai identitas yang memperkuat jati diri warga desa.
Dalam kesempatan tersebut, Bekel Iis juga turut mendoakan agar Desa Tenajar Lor senantiasa terus maju, berkembang, dan makmur. Doa yang sama juga disampaikan oleh seluruh tokoh masyarakat dan tamu yang hadir menyaksikan pagelaran wayang purwa Sekar Budaya. Pertunjukan malam itu semakin istimewa dengan kehadiran dalang Anom Rasam dari Cikedung yang memukau penonton dengan kepiawaiannya membawakan cerita dan pesan moral dalam pertunjukan.
Melestarikan budaya sekaligus membangun desa, itulah semangat yang kini tumbuh subur di Desa Tenajar Lor. Gelar budaya Mapag Sri membuktikan bahwa warisan leluhur bukan hanya masa lalu, tetapi juga kekuatan untuk membangun masa depan desa yang lebih sejahtera dan bersatu.
{DS}







