Opini

Pendidikan Agama Islam di AUD: Sinergi Orang Tua beserta Sekolah untuk Menanamkan Nilai Tauhid

63
×

Pendidikan Agama Islam di AUD: Sinergi Orang Tua beserta Sekolah untuk Menanamkan Nilai Tauhid

Sebarkan artikel ini

Pamekasan//suaraglobal.co id.

Pendidikan agama Islam bagi anak usia dini (AUD) merupakan fondasi utama dalam membangun kepribadian dan karakter seorang anak. Di tahap perkembangan emas ini, anak bagaikan kertas putih yang siap menerima berbagai goresan nilai dan ajaran yang diberikan oleh lingkungan sekitarnya. Dalam konteks pendidikan Islam, nilai pertama dan utama yang harus ditanamkan sejak dini adalah nilai tauhid, yakni pengakuan dan keyakinan akan keesaan Allah SWT. Nilai ini bukan sekadar konsep teologis, tetapi menjadi landasan moral dan spiritual yang akan membimbing anak sepanjang hidupnya.
Namun, menanamkan nilai tauhid pada anak usia dini tidak cukup hanya mengandalkan sekolah atau lembaga PAUD Islami. Pendidikan tauhid harus menjadi sinergi yang utuh antara sekolah dan orang tua, karena anak usia dini menghabiskan sebagian besar waktunya di lingkungan keluarga. Tanpa kerja sama yang baik antara kedua pihak, pendidikan agama Islam akan berjalan timpang dan kurang efektif dalam membentuk karakter anak.

Sekolah, khususnya lembaga PAUD Islami, memiliki peran strategis dalam mengenalkan nilai-nilai tauhid melalui berbagai aktivitas pembelajaran yang menyenangkan dan sesuai dengan tahap perkembangan anak. Di kelas, guru PAUD Islami dapat menanamkan tauhid lewat cerita-cerita teladan para nabi, nyanyian-nyanyian islami yang memuat pujian kepada Allah, doa-doa harian, serta pembiasaan ibadah sederhana seperti mengucapkan basmalah sebelum melakukan aktivitas, mengucap hamdalah setelah makan, dan menjawab salam. Semua ini dilakukan dengan metode yang kreatif, interaktif, dan penuh kasih sayang agar anak dapat menerima ajaran tauhid dengan hati yang gembira, bukan dengan paksaan.

Lebih dari itu, guru PAUD Islami harus tampil sebagai model keteladanan dalam menanamkan tauhid. Ketika guru mengucapkan salam dengan tulus, membaca doa dengan khusyuk, dan memperlihatkan perilaku jujur serta amanah, anak-anak akan meniru tanpa disuruh. Inilah esensi pendidikan tauhid: menanamkan keyakinan kepada Allah SWT yang tercermin dalam akhlak dan perilaku sehari-hari. Guru bukan hanya menyampaikan teori, tetapi menjadi teladan yang hidup.

Namun, usaha yang dilakukan sekolah tidak akan memberikan hasil maksimal jika tidak mendapat dukungan penuh dari orang tua. Anak usia dini menghabiskan lebih banyak waktunya bersama keluarga. Di sinilah peran orang tua sebagai pendidik utama dalam menanamkan nilai tauhid menjadi sangat penting. Orang tua perlu menghadirkan suasana rumah yang religius dan penuh kasih sayang. Mengajak anak salat berjamaah di rumah, membiasakan membaca doa bersama sebelum tidur, mengajarkan asmaul husna dengan cara menyenangkan, hingga mengajak anak berdzikir dalam aktivitas sehari-hari adalah bentuk nyata pendidikan tauhid di rumah.
Sayangnya, dalam realitas hari ini, sering kita jumpai ketidaksinambungan antara pendidikan tauhid di sekolah dan di rumah. Di sekolah, anak diajarkan untuk selalu mengingat Allah, tetapi di rumah anak dibiarkan sibuk dengan gawai, menonton tontonan yang jauh dari nilai Islam, atau bahkan mendengar ucapan kasar dari orang tuanya. Hal ini tentu menjadi kontraproduktif. Anak akan bingung dan kehilangan arah, karena menerima pesan yang bertentangan dari dua lingkungan terdekatnya.

Maka, sinergi orang tua dan sekolah harus diwujudkan melalui komunikasi dan kerja sama yang intens. Sekolah perlu melibatkan orang tua dalam program-program pendidikan agama, seperti parenting islami, pelatihan mendongeng islami, atau kegiatan keagamaan bersama (misalnya peringatan Maulid Nabi, pesantren kilat, atau lomba doa harian). Orang tua pun harus membuka diri untuk menjadikan guru sebagai mitra dalam mendidik anak, bukan sekadar menyerahkan seluruh tanggung jawab pendidikan agama kepada sekolah.

Selain itu, tantangan menanamkan nilai tauhid di era digital 2025 ini semakin berat. Anak-anak sudah akrab dengan berbagai konten digital sejak usia dini. Di sinilah orang tua dan sekolah harus bersinergi dalam mengarahkan anak agar memanfaatkan teknologi secara positif untuk mendukung pemahaman nilai-nilai tauhid. Misalnya, memilihkan aplikasi atau video islami yang sesuai usia, mengajarkan anak bernyanyi lagu-lagu islami yang menekankan keesaan Allah, atau mendampingi anak saat menonton cerita nabi-nabi. Orang tua dan sekolah harus kompak dalam membatasi dan mengawasi penggunaan gawai agar anak tidak terpapar konten yang bertentangan dengan ajaran Islam.

Pendidikan tauhid di PAUD juga harus kontekstual dan menyentuh kehidupan sehari-hari anak. Anak perlu diajak untuk melihat tanda-tanda kekuasaan Allah dalam lingkungan sekitarnya. Misalnya, guru mengajak anak mengamati keindahan langit, bunga yang mekar, atau hujan yang turun sambil menjelaskan bahwa semua itu adalah ciptaan Allah yang Mahakuasa. Di rumah, orang tua bisa memperkuat pesan ini dengan mengajak anak bersyukur atas rezeki yang diberikan Allah setiap hari. Pendidikan tauhid bukan hanya diajarkan, tetapi harus dihidupkan dalam keseharian anak.

Tentu, sinergi ini tidak akan terwujud tanpa komitmen bersama. Sekolah perlu memiliki program pendidikan agama yang terstruktur dan berkelanjutan. Guru harus dibekali dengan kompetensi pedagogis dan religius yang memadai. Sementara itu, orang tua harus menyadari betapa pentingnya peran mereka dalam pendidikan anak dan mau meluangkan waktu untuk mendampingi anak dalam menanamkan nilai tauhid. Pemerintah pun memiliki tanggung jawab untuk memfasilitasi program-program pelatihan guru PAUD Islami dan memberikan edukasi kepada orang tua tentang pentingnya pendidikan agama sejak dini.
Pada akhirnya, pendidikan agama Islam di PAUD dengan fokus pada penanaman nilai tauhid tidak hanya bertujuan melahirkan anak-anak yang tahu tentang Allah, tetapi anak-anak yang mencintai Allah dan menjadikan ajaran-Nya sebagai petunjuk hidup. Sinergi yang baik antara sekolah dan orang tua adalah kunci agar upaya ini berhasil. Dengan kerja sama yang erat, kita berharap dapat menyiapkan generasi muda yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga kokoh keimanannya dan luhur akhlaknya, sehingga mampu menjadi rahmat bagi sekitarnya.

By: Ikrom Salihadi, Lc., M.Pd.
Dosen Sekolah Tinggi Agama Islam Al Mujtama.

 

Jurnalis : Endang

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *