Opini

Serat Titen Mengenang Erupsi Merapi 2010

230
×

Serat Titen Mengenang Erupsi Merapi 2010

Sebarkan artikel ini

Sleman // suaraglobal.co.id –  Kisah ini kembali dalam pelukan Merapi. Kami, warga Kalitengah Lor Glagahharjo Cangkringan Sleman bersama teman-teman Arkom Indonesia, Eko Winardi (Wartawan Suara Global, 15/12/2025)) dan Warga Dlingo, Bantul (tempat kami mengungsi dari Erupsi Merapi) melakukan gotong royong membangun rumah kami kembali. Ini cerita 15 tahun yang lalu.

Saat Erupsi Merapi 2010.
Mohon doa restu dan dukungan. Kami akan memulai membuat “Serat Titen” di lokasi dulu aku bersama warga masyarakat lereng merapi di Dusun Kalitengah lor dan Kalitengah kidul, Glagahharjo, Cangkringan, Sleman.

banner 400x130

Melakukan kegiatan bersama menghadapi erupsi merapi 2010.
Sedulur Dlingo yang terhubung oleh saya dan teman-teman Arkom bergotong royong dari Dlingo membawa bambu, tenaga, dan teknologi membangun rumah.Pulang dari gotongroyong yang sekalian “melancong” dan bersilaturahmi, sungkem kepada “Ibu Merapi”. Sedulur Dlingo pulangnya tidak tangan kosong, bak truk yang tadi untuk menggotong bambu, pulangnya tidak kosong melompong, tapi diisi penuh rumput kolonjono kualitas super dari Merapi untuk oleh-oleh sapi dan ternak sedulur Dlingo.

Kami pulang ke kampung dari pengungsian. “Melawan Perintah!!!” penguasa yang melarang warga untuk kembali ke kampung, sebab kampung termasuk zona merah (kurang dari 5 km dari puncak Merapi). Karena warga merasa tidak bisa hidup di tempat lain.
Maka saat ini kami harus bertanggungjawab atas pilihan kami. Bagaimana bisa tetap hidup berdampingan dengan merapi. Bukan berarti kami mau melawan merapi.

Kalau Merapi akan “punya gawe” kami pasti akan menyingkir atau mengungsi jika kami diberi tahu rencana Merapi yang punya gawe. Sebagai sahabat karib Merapi, kami akan memperhatikan tanda-tanda, peringatan, pesan yang disampaikan Merapi kepada kami. Kami akan “niteni”, pesan, tanda-tanda, weling yang diberikan merapi, baik secara spiritual maupun tanda-tanda alam, kami menyebutnya “spiriteral”: tanda yang diberikan secara spiritual dan teriteral.
Kalitengah Lor adalah dusun tertinggi atau paling atas, paling dekat dengan puncak Merapi.Dusun Kalitengah Lor, Desa Glagaharjo, Kecamatan Cangkringan merupakan wilayah permukiman penduduk yang berada paling utara di Kabupaten Sleman. Jaraknya sekitar 4 kilometer dari puncak Gunung Merapi.

Dusun ini boleh dikatakan dusun tertinggi yang ada di Kabupaten Sleman. Dusun Kalitengah Lor juga berbatasan langsung dengan Desa Balerante, Kecamatan Kemalang, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Dusun ini letaknya juga tidak jauh dari Sungai Gendol yang berhulu di Merapi.

Karya Kreatif-Interaktif dari Lereng Merapi untuk Dunia yang Lebih Siaga
Bagaimana jika mitigasi bencana tidak harus dimulai dari teknologi canggih, tapi dari perilaku harian warga yang ratusan tahun hidup berpeluk erat dg bencana?
Bagaimana jika sistem peringatan dini berasal dari titen — pemahaman menafsir mimpi, “keduten” dan pengetahuan untuk membaca gerak awan, arah angin, bambu, migrasi burung, perilaku dan suara hewan — bukan hanya dari sensor digital?
Serat Titen adalah tawaran berani dan segar dari akar budaya Indonesia: menghadirkan karya kreatif-interaktif berbasis tradisi, adaptasi masyarakat dusun Kalitengah Lor dan Kalitengah Kidul, dua dusun di Kawasan Rawan Bencana (KRB) Gunung Merapi, sejak pasca erupsi Merapi 2010, memilih tetap tinggal dan merawat tanah leluhurnya.
Serat Titen adalah buku ilustrasi interaktif, tidak hanya merekam pengetahuan lokal tentang bencana, tetapi bertransformasi menjadi media edukasi, warisan nilai, dan inspirasi kebijakan.

Karya ini dirancang dengan pendekatan partisipatif, menggabungkan kekuatan narasi warga, visual ilustratif, dan daya hipnotis teknologi interaktif (video/audio), agar dapat diakses dan diminati oleh para generasi muda dan nkomunitas di wilayah rawan bencana lainnya.

Visi Budaya, Aksi Konkret. Serat Titen adalah manifestasi tekad yang sudah gembleng, tekad “golong gilig” warga Kalitengah: bahwa mitigasi bisa dilakukan dari dalam, dari tubuh sosial masyarakat sendiri.
Warga mempraktikan ilmu titen, menjaga festival spiritual tradisi Merti Dusun, menyiapkan jalur evakuasi berbasis pengalaman, hingga membangun sistem ekonomi lokal yang menyatu dengan ritme alam: peternakan sapi perah, kerajinan bambu, budidaya rumput gajah, dan agrowisata.
Semua praktik ini akan dikurasi, divisualkan, dan dikembangkan bersama warga menjadi Serat Titen — sebuah buku ilustrasi interaktif yang bukan hanya indah, tapi juga kuat secara konten.

Prosesnya akan melalui riset partisipatif, lokakarya kreatif, dan peluncuran kampung yang terbuka bagi publik. Dampak yang dihasilkan
Karya budaya edukatif sebuah metode belajar yang dapat digunakan di sekolah, perpustakaan, dan forum kebencanaan berfungsi sebagai:
•Pewarisan pengetahuan lokal dalam bentuk media visual yang ramah generasi muda
•Peningkatan kapasitas warga dan kebanggaan komunitas terhadap pengetahuan mereka sendiri
•Transfer model mitigasi budaya ke komunitas lain, membuka ruang kolaborasi antar wilayah
Serat Titen adalah Artefak Sastra yang dijahit dari sobekan perca peristiwa. Ini tentang ingatan kolektif warga yg tinggal di Kalitengah Lor dan Kalitengah Kidul, di punggung Merapi, belajar hidup bersama dengan Merapi.

Serat Titen yang akan “kami” bikin ini adalah tentang memori kolektif, ingatan bersama. Eko Winardi dan Yuli Kusworo akan menemani teman-teman warga Kalitengah untuk mengingat, mencatat dan menulis bersama. Kemudian menjadi Serat Titen, artefak sastra ingatan bersama milik semua warga Kalitengah. Bagaimana kami hidup akrab, berpeluk erat dengan Merapi.
Ingatan kolektif yg dijahit dari perca-perca kehidupan menjadi Serat Titen, menjadi literatur warisan. Legasi kami generasi “erupsi merapi 2010” diwariskan sebagai pusaka hidup, “jimat sing bisa ngucap”, untuk anak cucu kami generasi nanti. Demikian ungkap Heru Subroto, dan Hendro Pratomo.
Serat Titen, “jimat sing bisa ngucap”, dengan Serat Titen, kami menempatkan budaya sebagai Sistem bukan sekadar Simbol. Dengan Serat Titen, kami ingin menjahit kembali warisan pengetahuan warga menjadi karya yang hidup dan fungsional.

Serat Titen, bukan sekadar buku, tapi alat pendidikan, media refleksi, dan ruang dialog antar generasi. Serat Titen adalah sebuah karya yang menyatukan estetika dan strategi, budaya dan kebencanaan, Merapi dan Dunia.

Eko Winardi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *