Yogyakarta/suarglobal.co.id/idul-fitri-seharusnya-dijalani-dengan-kekhusyukan-ibadah-serta-kejernihan-jiwa-dan-pikiran-terlepas-dari-perbedaan-waktu-perayaan
Dalam khutbah Shalat Idul Fitri di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, [Jumat,20/02/2026], Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar menghimbau pada para elite bangsa untuk menjadi teladan dalam
menjaga persatuan ditengah perbedaan penetapan Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1447 Hijriah.
Haedar menegaskan bahwa perbedaan tidak seharusnya dipertajam, apalagi dijadikan ajang saling menyalahkan.
~“Tidak perlu kita mempertajam perbedaan, apalagi mencari pembenaran diri dengan menyalahkan pihak lain. Baik dalam konteks kewargaan maupun pemerintahan, semua pihak harus menahan diri,”
Ia juga mengajak tokoh agama serta para pemimpin untuk menghindari pernyataan yang berpotensi memperkeruh suasana di tengah masyarakat.
~“Jalani Idul Fitri dengan khusyuk, baik yang merayakan pada 20 maupun 21 Maret, bahkan yang lebih dahulu, agar kita tidak terjebak dalam hasrat perbedaan yang justru meretakkan persatuan,” katanya.
Guru besar sosiologi itu optimistis masyarakat Indonesia telah cukup dewasa dalam menyikapi perbedaan, sehingga tidak mudah terprovokasi menjadi konflik.
Lebih lanjut, Haedar juga berharap ke depan dunia Islam dapat memiliki kalender global tunggal guna meminimalisasi perbedaan dalam penetapan hari besar keagamaan.
~”Ke depan, insyaallah perbedaan itu dapat diminimalisasi, jika ada keterbukaan hati dan pikiran, serta didasarkan pada ilmu pengetahuan yang tinggi,” ucapnya.
Ia menegaskan pentingnya keteladanan elite bangsa dalam menjaga persatuan, perdamaian, dan toleransi, sekaligus mendorong kemajuan bersama.
~“Berikan teladan bagi rakyat bahwa para elite mampu menjadi uswah hasanah dalam menciptakan persatuan, perdamaian, toleransi, dan kemajuan. Kita masih memiliki berbagai ketertinggalan yang memerlukan kerja keras bersama dari seluruh komponen bangsa,” pungkasnya.
[tpa-suaraglobal]











