Seni & Budaya

Teater Guyon Maton Ala PASRI Hidupkan Semangat Kethoprak Ongkek di Purawisata

137
×

Teater Guyon Maton Ala PASRI Hidupkan Semangat Kethoprak Ongkek di Purawisata

Sebarkan artikel ini

Yogyakarta // suaraglobal.co.id — Perkumpulan PASRI kembali menghadirkan pertunjukan seni tradisi dengan gaya yang segar melalui Teater Guyon Maton dalam format kethoprak ongkek, Minggu malam (5/4/2026). Pementasan ini digelar di halaman parkir barat Purawisata dan dimulai pukul 19.30 WIB hingga selesai.
Kethoprak ongkek dikenal sebagai bentuk pertunjukan kethoprak yang mengusung konsep barangan atau ngamen. Dalam konsep ini, kesederhanaan menjadi kekuatan utama pertunjukan. Para pemain tampil dengan peralatan yang minimal, bahkan sebagian perangkat gamelan dibawa dengan cara dipikul. Interaksi langsung dengan penonton juga menjadi ciri khas, sehingga pertunjukan terasa lebih akrab, spontan, dan hidup.

Pertunjukan ini terselenggara berkat kolaborasi antara PASRI dan komunitas Pamijo (Pasar Minggu Jogja) yang rutin menghadirkan berbagai kegiatan seni, budaya, dan ekonomi kreatif bagi masyarakat. Kegiatan tersebut menjadi ruang pertemuan antara pelaku seni dan publik dalam suasana yang santai namun tetap sarat makna budaya.

Dalam pementasan kali ini, PASRI membawakan lakon berjudul “Putri Sejati”, yang dipilih sebagai bagian dari upaya menyambut Hari Kartini pada 21 April mendatang. Lakon ini mengangkat nilai-nilai keteguhan, keberanian, dan kehormatan perempuan, disampaikan melalui gaya teater yang ringan, penuh humor, namun tetap menyimpan pesan reflektif.
Sejumlah seniman turut ambil bagian dalam pementasan tersebut, di antaranya Dalijo Angkring, Ami Bhumi, dan Ketel Mardiyanto, bersama para pemain lain yang menghidupkan panggung dengan dialog jenaka dan improvisasi yang mengundang tawa penonton.
Melalui pertunjukan ini, PASRI menunjukkan bahwa seni tradisi seperti kethoprak tetap dapat hadir dengan pendekatan yang cair dan dekat dengan masyarakat. Dengan balutan humor khas “guyon maton”, pertunjukan tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga menjadi upaya menjaga denyut hidup teater rakyat di tengah perkembangan zaman.

( SL )

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *