Opini

Hakekat Arti Buruh Secara Luas Bagi Kepribadian Insan

127
×

Hakekat Arti Buruh Secara Luas Bagi Kepribadian Insan

Sebarkan artikel ini

Lamongan//suaraglobal.co.id – Setiap tahun pada awal bulan Mei selalu diperingati Hari Buruh Internasional atau May Day, dan setiap peringatan tersebut aksi massa dan tuntutan kesejahteraan selalu mewarnainya.

Namun, di balik keriuhan demonstrasi dan negosiasi upah minimum, terdapat sebuah refleksi mendalam mengenai apa sebenarnya hakekat menjadi seorang buruh di era modern ini.

Buruh pada imajinasi umum mempunyai arti yang berkonotasi tenaga kasar atau bisa dikatakan pekerja rendah dalam sebuah lingkungan pekerjaan.

Akan tetapi dalam arti luas, buruh adalah mereka yang mencurahkan tenaga, pikiran, dan waktunya untuk menciptakan nilai tambah bagi sebuah sistem ekonomi. Ia adalah penggerak roda peradaban yang seringkali terlupakan dalam gemerlap laporan laba rugi perusahaan.

Esensi kemanusiaan dalam kerja.
Hakekat buruh bukanlah sekadar “faktor produksi” sebagaimana sering disebut dalam teori ekonomi klasik. Buruh adalah personifikasi dari martabat manusia yang berupaya menyambung hidup sekaligus memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat.

Dalam sebuah pendapat mengatakan bahwa setiap insan didunia ini adalah buruh (Abdi) sebagaimana yang tercurah pada Al Qur’an yang artinya sesungguhnya Allah menciptakan Jin dan manusia hanya sebagai abdi. Maka dari itu manusia harus senantiasa bisa mengabdikan dirinya pada lingkungan, pada sesama bahkan pada dirinya sendiri untuk pengabdian yang lebih tinggi yaitu pada Allah SWT.

“Menjadi buruh adalah tentang dedikasi. Di setiap produk yang kita gunakan, ada keringat dan ketelitian seorang pekerja di sana,” ujar salah satu sosiolog perburuhan. Menurutnya, memandang buruh hanya sebagai biaya (cost) adalah kegagalan sistemik dalam menghargai kemanusiaan.

Tantangan Era Disrupsi Digital

Di era industri 4.0, hakekat buruh sedang mengalami ujian berat. Digitalisasi dan otomasi mengancam posisi pekerjaan konvensional. Namun, pengamat ekonomi melihat ini sebagai momentum untuk mendefinisikan ulang peran buruh.

Beberapa poin krusial yang menjadi tantangan buruh saat ini antara lain:
Reskilling dan Upskilling: Kebutuhan untuk terus belajar agar tetap relevan dengan teknologi.

Kesejahteraan Psikologis: Isu burnout dan kesehatan mental yang mulai mendapat perhatian serius.

Kepastian Hukum: Perlindungan di tengah maraknya tren ekonomi berbagi (gig economy) seperti ojek online dan pekerja lepas (freelancer).

Menuju Keadilan Sosial

Pemerintah dan pengusaha dituntut untuk tidak hanya melihat buruh sebagai objek, tetapi sebagai mitra strategis. Upah layak, jaminan kesehatan, dan hak untuk berserikat adalah manifestasi dari pengakuan terhadap hakekat buruh.

Keadilan bagi buruh bukan berarti mematikan usaha, melainkan menciptakan ekosistem yang berkelanjutan di mana pertumbuhan ekonomi berjalan selaras dengan kesejahteraan manusia di dalamnya.

Pada akhirnya, menghargai buruh adalah menghargai diri kita sendiri sebagai bangsa yang besar. Tanpa tangan-tangan dingin para pekerja, gedung-gedung pencakar langit tidak akan berdiri, dan barang-barang kebutuhan pokok tidak akan sampai ke meja makan kita.

Hakekat buruh adalah hakekat perjuangan manusia untuk hidup bermartabat. Sudah saatnya kita memberikan apresiasi yang melampaui sekadar retorika tahunan.

Hukum timbal balik adalah keniscayaan yang harus dilakukan pada sebuah lingkungan kerja yaitu saling menghargai. Karena antara buruh dan pimpinan atau owner pada perusahaan adalah hubungan yang saling membutuhkan dan saling menguntungkan. Atasan harus menghargai bawahan dengan standart yang sudah ditentukan kelayakannya ditambah reword yang perlu untuk memberikan motivasi kerja. Demikian juga buruh seharusnya selalu memegang etos kerja sesuai tupoksinya dengan menjaga kwalitas dan kuantitas kinerja sesuai dengan kedudukannya.

Secara mendalam abdi adalah manusia dan atasan adalah Allah SWT. Jika Allah sudah memberikan kasih sayangNya dengan segala keadilan yang kesemuanya berujung pada nikmatNya. Maka manusia sebagai abdi seharusnya lebih meningkatkan kewajibannya baik vertikal maupun horisontal dengan keimanan dan ketaqwaan untuk keseimbangan perputaran roda kehidupan dalam mencapai titik yang dituju oleh tujuan hidup itu sendiri.

Akhirnya , dihari yang bahagia ini segenap redaksi media suaraglobal.co.id mengucapkan selamat Hari Buruh International (May Day) semoga kita semua tetap bermanfaat sesuai dengan kedudukan dan fitrah kita “Sebaik-baik manusia adalah yang berguna bagi dirinya dan manusia lain” CW

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *