Budaya

Gerebeg Besar Keraton Yogyakarta Akan Dilaksanakan Secara Sederhana

45
×

Gerebeg Besar Keraton Yogyakarta Akan Dilaksanakan Secara Sederhana

Sebarkan artikel ini

Yogyakarta/suaraglobal.co.id/keraton- ngayogyakarta- hadiningrat-resmi-menyederhanakan-pelaksanaan- garebeg-besar- idul-adha-1447- hijriah- mendatang,

Gubernur DIY sekaligus Raja Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Sri Sultan Hamengku Buwono X, memutuskan untuk meniadakan arak-arakan gunungan serta kirab pasukan prajurit keraton dalam prosesi Hajad Dalem Garebeg Besar yang akan dilaksanakan pada Rabo,
[27/5/2026]

Keputusan tersebut diambil sebagai bagian dari penghematan anggaran di tengah kondisi ekonomi yang masih menjadi perhatian, baik di tingkat pusat maupun daerah.

Sri Sultan HB X mengatakan langkah itu juga dilakukan agar Keraton tidak dipandang menggelar acara terlalu mewah di tengah situasi ekonomi masyarakat saat ini.

~“Penghematan saja. Pemerintah pusat penghematan, daerah juga penghematan. Karena biaya terbesar memang ada di prosesi itu,” ujar Sri Sultan, Kamis [21/5/2026].

Meski tanpa gunungan dan prajurit, Sultan menegaskan esensi utama Garebeg tetap dipertahankan sebagai simbol sedekah raja kepada rakyat. Seluruh ubarampe pareden tahun ini hanya akan dibagikan secara internal kepada para Abdi Dalem Keraton Yogyakarta dan tidak dibagikan kepada masyarakat umum.

Abdi Dalem senior Keraton Yogyakarta, KRT Kusumanegara, membenarkan bahwa pihak Keraton telah menerima Dhawuh Dalem atau perintah langsung dari Sri Sultan untuk menyederhanakan seluruh prosesi Garebeg.

Dengan kebijakan tersebut, sejumlah agenda pendukung yang biasanya menjadi bagian penting Garebeg juga resmi ditiadakan.

Tradisi Gladhi Resik Prajurit yang biasa digelar menjelang Garebeg dipastikan tidak berlangsung tahun ini. Begitu pula dengan tradisi Numplak Wajik yang biasanya menjadi simbol persiapan pembuatan gunungan.

Meski mengalami penyederhanaan, pihak Keraton menegaskan bahwa perubahan bentuk prosesi bukan hal baru dalam sejarah Garebeg.

Wakil Penghageng II Kawedanan Sri Wandawa Keraton Yogyakarta, KRT Sindurejo, menjelaskan bahwa tradisi Garebeg sejak dulu memang selalu mampu beradaptasi mengikuti situasi zaman.

Menurutnya, pada masa perjuangan kemerdekaan hingga pandemi Covid-19, prosesi Garebeg juga pernah mengalami perubahan bentuk tanpa menghilangkan makna budaya dan filosofi utamanya.

Keraton pun membuka kemungkinan bahwa gunungan dan iring-iringan prajurit bisa kembali dimunculkan pada agenda budaya berikutnya apabila kondisi ekonomi dinilai sudah lebih baik.

~“Kalau keadaan ekonominya membaik ya dimunculkan lagi,” tegas Sri Sultan HB X.

[tpa-suaraglobal]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

2