Mojokerto//suaraglobal.co.id 12/04/2026
Di hamparan pegunungan Pacet, Mojokerto, dengan hawa sejuk, pemandangan hijau, dan aliran sungai jernih, di tengah berdiri kokoh vila disetiap jalan menuju pegunungan, terdapat sebuah bukit yang menyimpan kisah tentang tokoh spiritual yang makamnya banyak dikunjungi peziarah.
Peziarah yang datang dengan berbagai maksud dan tujuan harus melewati tangga beton yang jumlahnya lebih dari 570 menanjak yang dihiasi rimbunya semak.dan.pepohonan rindang hingga menuju area makam.
Tokoh spiritual Ki Danurejo yang dikenal dengan sebutan Sunan Pangkat, konon merupakan seorang ulama lokal yang hidup pada masa peralihan Majapahit ke awal berdirinya Kesultanan Demak.
Walaupun namanya tidak muncul dalam deretan daftar Wali Songo, akan tetapi pengaruhnya sangat berarti dalam penyebaran Islam di kawasan Pacet dan tertanam dalam memori masyarakat tentang perjuangan menyebarkan agama Islam hingga saat ini
Dikisahkan daerah Pacet pada akhir abad ke-15 hingga awal abad ke-16 berada dalam fase peralihan penting. Kerajaan Majapahit sedang memasuki masa kemunduran, sementara kekuatan Islam dari wilayah Demak perlahan berkembang.
Pada saat itulah muncul para wali lokal atau ulama yang tidak menduduki posisi politik besar tetapi sangat berpengaruh di kalangan masyarakat desa.
Nama Sunan Pangkat memiliki sejumlah penafsiran dalam tradisi lokal. Ada yang menyebut bahwa kata pangkat merujuk pada kedudukan spiritual beliau yang tinggi, sehingga masyarakat memberinya gelar kehormatan tersebut. Penafsiran lain mengatakan bahwa Sunan Pangkat dikenal sebagai guru yang sering memberikan “wejangan berpangkat” nasihat berjenjang dari dasar hingga batin kepada para muridnya.
Sunan Pangkat datang ke Pacet ketika wilayah tersebut masih kuat dengan pengaruh kepercayaan animisme, Hindu-Buddha, dan tradisi lokal Jawa.
Menurut cerita rakyat, awalnya Sunan Pangkat singgah di daerah pegunungan untuk bertapa dan mencari ketenangan batin. Namun kemudian, interaksi dengan penduduk setempat membuatnya menetap lebih lama dan mengabdikan hidupnya untuk mengajarkan Islam.
Hingga kini, terdapat beberapa titik yang diyakini sebagai peninggalan Sunan Pangkat di kawasan Desa Tamiajeng, Pacet, Mojokerto.
Sunan Pangkat meninggalkan filsafat serta ajarannya antara lain hidup sederhana, ngeli neng ning ora keli, menjaga alam, rezeki halal, serta keseimbangan lahir dan batin.
Berdasarkan cerita masyarakat setempat Sunan Pangkat memiliki karomah antara lain munculnya mata air dari tongkat, cahaya harum saat pemakaman, dan kemampuan mengetahui kedatangan tamu.
Peran Sunan Pangkat besar dalam membentuk masyarakat muslim di Pacet, melahirkan murid-murid yang berguru dan ditugasi untuk berdakwah menyebarkan agama Islam, dan menjaga harmoni Islam dan budaya Jawa.
Saat ini walaupun tinggal.pusara namun keteladanan Sunan Pangkat masih dilakukan oleh warga Pacet, Sunan Pangkat dihormati karena peran dakwahnya, keteladanan, dan nilai-nilai luhur yang diajarkan.
Makam Sunan Pangkat adalah bukti perjuangan penyebaran agama Islam di wilayah Pacet yang harus dilestarikan dengan menjaga bukti kebenaran siar Islam agar tidak punah ditelan jaman. Red