Daerah

Komisi B DPRD Sidoarjo Soroti Rendahnya PDRB Sektor Pertanian

17
×

Komisi B DPRD Sidoarjo Soroti Rendahnya PDRB Sektor Pertanian

Sebarkan artikel ini
Wakil Ketua Komisi B DPRD kabupaten Sidoarjo, Kusumo Adi Nugroho dari fraksi PDIP menilai kegagalan target pencapaian PDRB Sektor Pertanian tidak dapat dianggap biasa saja dan harus menjadi bahan evaluasi serius bagi Pemerintah daerah Sidoarjo untuk dapat meningkatkan capaian PDRB Sektor Pertanian pada tahun ini.

Sidoarjo//suaraglobal.co.id – Di tengah gencarnya program swasembada pangan nasional, capaian sektor pertanian di Kabupaten Sidoarjo justru belum mampu berbicara banyak. Target laju pertumbuhan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) sektor pertanian tahun 2025 gagal tercapai dan menuai sorotan tajam dari DPRD Sidoarjo.

Dalam dokumen Laporan Keterangan Pertanggungjawaban (LKPJ) Pemkab Sidoarjo 2025, Dinas Perdagangan dan Pertanian menargetkan pertumbuhan PDRB sektor pertanian sebesar 3,11 persen. Namun realisasinya hanya menyentuh angka 1,39 persen atau sekitar 44,69 persen dari target yang ditetapkan.

Padahal, saat ini pemerintah pusat sedang masif memperkuat ketahanan pangan nasional dengan melibatkan berbagai elemen masyarakat. Lahan-lahan tidur mulai digarap untuk tanaman pangan seperti jagung, padi hingga komoditas lainnya.
Kondisi itu dinilai harusnya juga diimbangi dengan dukungan serius dari pemerintah daerah agar program swasembada pangan berjalan selaras antara pusat dan daerah.

Dalam LKPJ tersebut dijelaskan, rendahnya capaian pertumbuhan sektor pertanian dipengaruhi sejumlah faktor. Di antaranya dominasi sektor industri dan perdagangan di Sidoarjo yang membuat kontribusi pertanian terhadap struktur PDRB relatif kecil.

Selain itu, sektor pertanian disebut sangat sensitif terhadap perubahan musim dan faktor eksternal dibanding sektor industri. Tekanan lain juga datang dari tingginya alih fungsi lahan pertanian menjadi kawasan perumahan maupun industri.

Wakil Ketua Komisi B DPRD Sidoarjo, Kusumo Adi Nugroho, menilai kegagalan target tersebut tidak bisa dianggap biasa dan harus menjadi bahan evaluasi serius bagi pemerintah daerah.

“Jangan sampai lahan hijau berubah jadi kuning dan abu-abu. Artinya sawah berubah jadi perumahan atau pabrik terus-menerus,” katanya.
Menurutnya, persoalan alih fungsi lahan menjadi ancaman nyata bagi masa depan pertanian Sidoarjo. Meski di wilayah perkotaan lahan pertanian mulai menyusut, ia menyebut kawasan seperti Balongbendo dan Tarik masih memiliki potensi pertanian yang cukup besar dan harus dijaga.
Ia juga menyoroti kondisi perubahan iklim yang belakangan berdampak terhadap produktivitas pertanian. Bahkan, fenomena cuaca ekstrem seperti El Nino turut mempengaruhi pola tanam petani.

Kusumo menegaskan inovasi di sektor pertanian tidak boleh berhenti. Salah satunya melalui pengembangan teknologi pertanian dan edukasi penggunaan pupuk cair untuk meningkatkan kualitas tanah dan produksi tanaman.

“Kalau bicara inovasi ya harus terus jalan. Kemarin kami juga mencoba membagikan bibit bawang dan ternyata bisa tumbuh di Sidoarjo,” ujarnya.
Selain itu, ia meminta pendampingan terhadap petani melalui penyuluh pertanian lebih diintensifkan. Sebab, banyak persoalan teknis di lapangan yang masih membutuhkan perhatian serius, mulai dari kesuburan tanah hingga persoalan irigasi.

Ia mencontohkan sejumlah wilayah pertanian yang mulai mengandalkan sumur pompa karena persoalan pengairan. Namun, penggunaan sumur tersebut dinilai belum maksimal karena debit air cepat menurun.

“Ada beberapa kasus pengairan yang perlu dievaluasi. Teman-teman petani memakai sumur pompa tapi airnya cepat kering. Ini harus dicek lagi kedalaman air tanahnya, NDPL-nya berapa. Kalau memang harus dibor lebih dalam supaya airnya lebih tinggi ya harus dilakukan,” pungkasnya. (NK)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *