Seni & Budaya

Kidung Tolak Balak dalam Kirab Budaya Merti Desa Menthel Pakel Hargosari

7
×

Kidung Tolak Balak dalam Kirab Budaya Merti Desa Menthel Pakel Hargosari

Sebarkan artikel ini

Gunungkidul // suaraglobal.co.id — Tradisi budaya masyarakat Gunungkidul kembali terlihat semarak dalam Kirab Budaya Merti Desa Menthel–Pakel yang digelar di Kalurahan Hargosari, Kapanewon Tanjungsari, Kamis (28/5/2026). Kegiatan tahunan tersebut berlangsung meriah dengan melibatkan partisipasi warga dari berbagai padukuhan.

Kirab budaya diikuti empat Padukuhan Pakel, Mojosari, Timunsari, dan Candisari. Masing-masing menampilkan empat bergodo dengan kekhasan budaya serta kreativitas seni yang menjadi identitas masyarakat setempat.
Berbagai pertunjukan tradisional turut memeriahkan acara, mulai dari reog, gedrug, dhoger, prajurit lombok abang, hingga sajian tari. Namun di antara beragam penampilan tersebut, Kidung Tolak Balak dari Padukuhan Mojosari menjadi salah satu sajian yang menjadi sorotan perhatian masyarakat.

Kidung yang dilantunkan dengan nuansa sakral dengan kepulan asap dupa tersebut dipadukan dengan pertunjukan tari wong ireng yang mengenakan topeng dengan beragam ekspresi. Suasana magis dan khidmat terasa menyelimuti jalannya pertunjukan, menghadirkan perpaduan antara sastra lisan, gerak tari, musik tradisi, dan kreativitas visual dalam satu kesatuan artistik.

Penampilan tersebut tidak hanya menjadi bentuk pelestarian tradisi leluhur, tetapi juga menjadi media doa bersama masyarakat untuk memohon keselamatan, menolak bala, serta menjaga harmoni kehidupan.
Dalam kirab budaya kali ini, Padukuhan Mojosari mengangkat tema “Nyawiji”. Tema tersebut merupakan karya elaborasi budaya yang lahir dari semangat persatuan, kebersamaan, dan keselarasan hidup dalam bingkai kearifan Nusantara.

“Nyawiji” menggambarkan jiwa-jiwa yang menyatu dalam tekad, langkah, dan gerak sebagai wujud harmoni antarmanusia dalam menjaga kehidupan yang tenteram dan bermakna. Terinspirasi dari nilai luhur budaya Indonesia, karya tersebut menghadirkan simbol keteguhan, kekompakan, dan harapan akan lestarinya tradisi warisan leluhur.

Ragam gerak yang dinamis dan ekspresif menjadi representasi semangat bersama masyarakat dalam menjaga persaudaraan, memperkuat kerukunan, serta merawat keseimbangan kehidupan sosial. Melalui karya itu pula, masyarakat Mojosari menyampaikan doa agar kehidupan senantiasa berjalan dalam suasana tata, titi, tentrem menuju keadaan gemah ripah loh jinawi yang penuh kedamaian dan keberkahan.
Kirab budaya Merti Desa Menthel–Pakel pun menjadi bukti bahwa tradisi dan nilai budaya lokal masih hidup serta terus diwariskan dari generasi ke generasi di tengah perkembangan zaman.

(Ss)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Seni & Budaya

Sanggar Keris Mataram (SKM) Yogyakarta: Sepakati Kerjasama dengan…

2