Peristiwa

Ratusan Santriwati Dijemput Orang Tua Setelah Pimpinan Padepokan Diamankan Polisi

7
×

Ratusan Santriwati Dijemput Orang Tua Setelah Pimpinan Padepokan Diamankan Polisi

Sebarkan artikel ini

Pekalongan/suaraglobal.co.id/para-wali-santri-merasa-cemas-dan-khawatir-akan-kondisi-psikologis-dan-kelanjutan-pendidikan-anak

Pimpinan Padepokan Padang Ati, AKF [55] yang beralamat di Desa Simbang Kulon, Kecamatan Buaran, Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah diamankan polisi dan ditetapkan sebagai tersangka kasus dugaan kekerasan seksual terhadap santriwati.

Sejak Kamis [28/5/2026] suasana di depan padepokan ramai oleh kehadiran wali santri yang datang silih berganti. Mereka tampak menunggu proses administrasi sebelum membawa pulang anak-anak mereka masing-masing.

~”Saya khawatir dengan kejadian ini, makanya cepat-cepat menjemput putri saya,” ujar salah seorang wali santri di lokasi.

Mereka mengaku resah setelah kasus dugaan asusila yang melibatkan pimpinan dan pengasuh padepokan tersebut mencuat ke publik. Selain situasi yang dianggap tidak lagi kondusif, para orang tua juga khawatir terhadap kondisi mental anak-anak mereka yang masih berada di lingkungan pesantren.

~“Takut anak-anak jadi trauma. Kami juga bingung bagaimana kelanjutan pendidikannya nanti,” kata wali santri lainnya.

Kasus dugaan tindak kekerasan seksual ini sendiri terungkap setelah polisi menerima enam laporan resmi dari korban. Namun, jumlah korban diduga jauh lebih banyak dan diperkirakan bisa mencapai lebih dari 25 orang.

Kapolres Pekalongan Kota AKBP Riki Yariandi mengatakan, pimpinan padepokan ditangkap pada Rabu [27/5/2026] pagi setelah penyidik mengantongi dua alat bukti yang cukup. Polisi juga mengungkap bahwa proses penyelidikan sempat mengalami kendala karena para korban diduga mengalami intimidasi, dan trauma sehingga takut memberikan keterangan.

~“Korban sebagian besar masih takut dan mengalatrauma. Namun setelah ada enam laporan masuk, kasus ini mulai terbuka,” ujarnya.

Berdasarkan hasil penyelidikan sementara, dugaan tindak asusila di padepokan tersebut disebut telah berlangsung cukup lama, bahkan sejak tahun 2008. Selama bertahun-tahun kasus itu diduga ditutupi rapat hingga tidak pernah mencuat ke permukaan.

Kasus ini semakin menjadi sorotan setelah muncul dugaan seorang santriwati berinisial F sempat hamil dan melahirkan, namun kejadian tersebut tidak pernah terungkap secara luas sebelumnya.

Terbongkarnya kasus ini juga tidak lepas dari aksi puluhan anggota Organisasi Masyarakat [Ormas] Yakuza Mangenes yang mendatangi padepokan, untuk meminta pertanggungjawaban pimpinan terkait banyaknya laporan dugaan asusila.

Perwakilan Ormas Yakuza Mangenes mengatakan, pihaknya menerima banyak aduan dari masyarakat melalui pesan singkat, maupun dari media sosial sebelum akhirnya turun langsung ke lokasi dan mendampingi korban melapor ke polisi.

~“Kami banyak menerima laporan baik melalui pesan singkat maupun media sosial, sehingga kami turun langsung ke ponpes untuk meminta pertanggungjawaban dari pimpinan ponpes,” ujarnya kepada wartawan.

Menurut pihak ormas, jumlah korban diduga mencapai puluhan santriwati. Namun sebagian besar korban disebut takut melapor karena adanya dugaan intimidasi dan pengaruh pelaku sebagai tokoh di lingkungan tersebut.

~“Sampai saat ini ada enam korban yang melapor, dimungkinkan akan bertambah setelah terbongkarnya kasus ini,” katanya.

[tpa-suaraglobal]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Peristiwa

Bantul/suaraglobal.co.id/halim-menegaskan-tindakan-persekusi-intimidasi-terhadap-umat-yang-sedang-menjalankan-ibadah-tidak-dibenarkan-baik-dari-persepektif-agama-maupun-konstitusi Bupati Bantul Abdul Halim Muslih menegaskan bahwa…

2