Mojokerto//suaraglobal.co.id. 05/06/2026
Candi Brahu yang terletak di Dukuh Jambu Mente, Desa Bejijong, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, masih terlihat berdiri kokoh ditengah hamparan rumput hijau. Tinggi menjulang seakan menggapai mega.
Letaknya tidak jauh dari candi Gentong, dan perjalanan sekitar 5 menit dari Siti Inggil yang diyakini sebagai tempat pertapaan Raden Wijaya Raja pertama Kerajaan Majapahit.
Candi Brahu merupakan salah satu candi tertua di Jawa Timur yang bercorak Buddha. Bangunan setinggi 20 meter ini diperkirakan dibangun sejak masa Raja Mpu Sindok pada abad ke-10 dan sering dikaitkan dengan masa Kerajaan Majapahit.
Umur dari Candi Brahu diperkirakan lebih tua bila dibandingkan dengan candi – candi lain di Trowulan. Penamaan Brahu dikaitkan dengan kata ‘Wanaru’ atau ‘Warahu’ yang merupakan penamaan bangunan bangunan suci yang ada di prasasti tembaga ‘Alasantan’ yang ditemukan sekitar 45 m dari Candi Brahu. Prasasti ini dibuat pada 861 Saka atau 939 M atas perintah dari Raja Mpu Sindok dari Kerajaan Kahuripan. Konon di candi inilah tempat kremasi dan penyimpanan abu jasad raja–raja Brawijaya.
Pada sekitar candi sering ditemukan benda–benda kuno seperti, alat upacara dari logam, perhiasan serta benda–benda yang terbuat dari emas dan arca yang menunjukkan ciri agama Buddha, sehingga disimpulkan bahwa Candi Brahu adalah candi agama Buddha.
Walaupun tidak saat ini tidak terdapat arca–arca di candi ini akan tetapi yang menguatkan bahwa Candi Brahu adalah candi buddha adalah alas stupa yang ada di sebelah tenggara atap candi.
Candi Brahu yang diperkirakan didirikan pada abad 15 M itu menghadap ke barat dengan ukuran dasar yang memiliki luas 18 x 22,5 m serta memiliki tinggi mencapai 20 m. Candi Brahu terbuat dari bata merah sebagaimana ciri khas bangunan peninggalan jaman Majapahit, namun berbeda dengan candi lain, bentuk dari Candi Brahu tidak berbentuk tegas persegi, namun memiliki banyak sudut – sudut, tumpul dan berlekuk. Lekukan – lekukan ini dipertegas dengan pola batu bata dengan susunan pada area dinding barat dan depan candi. Puncak candi juga berbeda tidak berbentuk prisma bersusun ataupun segi empat, namun memiliki sudut banyak dengan puncak datar.
Pada bagian dasar candi atau kaki candi memiliki dua tingkat. Pada bagian bawah memiliki tinggi yaitu 2 m, terdapat tangga pada bagian barat menuju selasar dengan lebar 1 m yang mengelilingi tubuh candi. Pada selasar pertama terdapat sebuah tangga yang menghubungkan ke selasar ke dua. Pada selasar kedua inilah tubuh candi berdiri. Pada sisi barat candi, terdapat lubang semacam pintu dengan tinggi 2 m dari selasar kedua. Mungkin pada zaman dahulu terdapat tangga penghubung ke pintu tersebut namun tidak ditemukan dan menyulitkan pengunjung untuk masuk ke dalam tubuh candi.
Konon ruangan Candi Brahu cukup luas dan bisa menampung sekitar 30 orang.
Tidak seperti candi Borobudur ataupun Candi Prambanan, pada bagian bawah candi tidak terdapat relief, namun dengan struktur tumpukan batu bata membentuk gambar pola geometris ataupun lekukan yang indah yang menjadikan pembeda dengan candi–candi lain.
Berdasarkan informasi masyarakat bahwa candi Brahu dilakukan pemugaran pada tahun 1990 hingga 1995. namun sekarang tidak terlihat.
suaraglobal.co.id juga melihat situs yang baru ditemukan berupa pondasi dari bata merah di sebelah selatan area Candi Brahu, akan tetapi belum ada keterangan tentang peninggalan tersebut karena masih belum terselesaikan.
Hingga saat ini Candi Brahu masih banyak dikunjungi wisatawan, apalagi di setiap sudut dibangun Gasebo dan tempat istirahat dibawah rimbunnya pepohonan, menambah suasana asri saat menikmati indahnya candi.
Semoga tonggak-tonggak sejarah sebagai bukti kejayaan nenek moyang masih lestari sebagai pelajaran bahwa negri ini adalah negri yang besar. Neng











